Surat
untuk Muridku
Anakku,
ini bukan puisi juga bukan keindahan
Bukan
syair yang merdu untuk didengarkan
Dan
bukan tembang yang enak untuk didendangkan
Ini
hanya ungkapan perasaan
Ungkapan
rasa cinta yang ingin aku lahirkan
Aku
ingin hadir lewat kata
Menggoreskan
tinta yang barangkali punya makna.
Anakku, kemarilah mendekat
Kita duduk dan saling merapat.
Agar antara kau dan aku bisa saling tatap
Saling berbagi rasa
Selagi engkau masih bersatu
denganku
Masih aku rengkuh dan aku dekap
dengan lekat
Ayolah anakku,mendekat dan
tataplah aku
Aku ingin mengalirkan darah
Aku ingin meneteskan hakekat
peradaban
Agar ada kekuatan dalam tubuhmu
Biar ada kemantapan dalam
cita-citamu
Biar tak limbung bila ada
terpaan
Yang sewaktu-waktu datang menghadang
Namun ada yang terlebih dahulu ingin
aku tanyakan,
Masihkah kau rasakan benang kasih
sayangku?
Masihkah kau rasakan belaian mesra tanganku?
Dan,
masihkah bergetar bila mendengar nasihat dariku?
Serta, belum bosankah bila aku ingin
mengantar sampai pada pintu cita-citamu?
Anakku, pandang dan tataplah ke
depan
Di sana nampak cakrawala luas membentang
Lihat,di sana nampak kabut menutup
Nampaknya mentari tak kuasa menyibak
Suatu saat nanti datanglah ke sana
Tolonglah biar sang mentari lepas
Sebab nampaknya tenaga telah terkuras
Agar dia bisa bebas bernafas
Anakku, tahukah engkau, abad ini bukan abad silam?
Di mana orang hidup serba gemerlapan?
Abad ini adalah abad mabuk
Sebab keadilan sulit ditemukan
Kebenaran dan kesalahan sulit dibedakan
Sebab kewibawaan telah dipermainkan dan disalahgunakan.
Sebelum aku teruskan, ada yang ingin aku tanyakan
Sudahkah kau tanam dalam biji kebenara kehidupan?
Sudahkah kau keluarkan peluh dan keringatmu untuk bumi
tuhan?
Jangan kau siakan
Sebab waktu akan bergulir dengan cepat
Waktu akan merayap dan tak bisa dicegat
Anakku, kini engkau telah menjelang dewasa
Di mana engkau harus
bisa menjelma jadi sang bima
Yang siap bertempur di medan laga
Yang harus menebas angkara
Yang harus meredam durjana
Biar tak merajalela.
Barangkali kau pernah dengar kasus katebelece
Yang melibatkan orang-orang geda
Yang telah begitu cepat menyebar bagai aroma sayur petai
Hingga semua orang tahu dari sabang sampai merauke.
Anakku, renungkan dan simpan dalam dada, dalam jiwa dan
dalam raga
Pilihlah cakrawala dengan sejuta kebenaran
Asahlah cahaya di atas kegelapan
Sebab, ketidakmengertian dan kebejatan sering mewarnai
kehidupan
Anakku, saat ini engkau masih dalam rengkuhanku
Masih aku ikat erat dengan sabuk pengamanku
Berlayarlah di pantai tuhan
Bacalah mantra-mantra tuhan, pasti hidupmu akan tentram.
Anakku,aku ingin kau berpegang erat pada nasihat
Jaga diri jangan sampai tersesat
Jangan dekati hidup berkawan maksiat
Jadilah pejabat,jadilah kongklomerat
Namun jagalah martabat, agar dirimu tak sesat.
Jangan kau menindas
Jangan kau menggilas
Sebab keduanya sangat pedas
Seperti perihnya hantaman batu cadas.
Anakku, masih banyak yang ingin aku tumpahkan
Masih banyak yang ingin aku beberkan
Namun, nampaknya rembulan telah mengantuk
Dan, malampun telah larut,sebab tak terdengar lagi nyanyian
burung pungguk.
Istirahatlah anakku,berbaringlah...
Malam ini aku ingin tidur bersamamu
Malam ini aku ingin berdoa bersamamu
Memohon kan untuk harapan dan cita-citamu.
Anakku,malam nanti aku ingin tahajud bersamamu
Anakku,selamat malam
Pintaku,ceritakan mimpi-mimpimu setelah sembahyang subuh
menjelang.
Wonosobo,Januari 2012, Ketika angin bertiup dengan kencang dan porak porandakan sebagian yang ada.

